Browser AI untuk Designer, emang ada? Kalau kamu desainer, pasti kenal rasa capek, buka banyak tab buat UX research, baca brief di Notion, cek Miro, balas email, sambil kejar deadline. Semua dikerjain di browser, tapi browser-nya sendiri cuma jadi “tempat lewat”, bukan asisten yang benar-benar bantu mikir.
Sekarang sudah ada Comet Browser dari Perplexity, sebuah AI-native browser yang dari awal didesain supaya AI ikut kerja bareng kamu di setiap tab. Di artikel ini saya mau share bagaimana saya memanfaatkan Browser AI untuk designer dari UX research, analisa project brief, review workflow di Miro, sampai bikin timeline dan rekap meeting otomatis.
Table of Contents
- Kenapa Comet Berbeda dari Browser Biasa?
- UX Research Tanpa Tab Overload
- Analisa Project Brief Supaya Nggak Salah Arah
- Studi Kasus: Review Workflow di Miro dengan Comet
- Comet Sebagai Partner Review Design Flow dan UX Copy
- Bikin Timeline dan Rencana Pengerjaan dengan Perplexity
- Kelebihan Browser AI untuk Designer Dibanding Lain
- Key Takeaway Dari Browser AI untuk Designer

Kenapa Comet Berbeda dari Browser Biasa?
Comet Browser itu bukan cuma “Chrome yang dikasih AI”, tapi memang browser yang AI-nya dibangun sebagai inti produknya. Di sisi kanan kamu akan lihat Comet Assistant yang selalu aktif dan paham konteks halaman yang lagi kamu buka.
Beberapa hal yang bikin Comet kerasa beda:
- AI agentic di dalam browser Comet bukan cuma jawab pertanyaan, tapi bisa jadi AI agentic, artinya dia bisa menjalankan task multi-step di web berdasarkan instruksi kamu. Misalnya: download file secara otomatis, membuka beberapa halaman, sampai mengikuti guideline browsing yang kamu tentukan.
- Control browser lewat prompt Kamu bisa pakai perintah seperti “control browser” secara konsep: minta Comet untuk menjelajah halaman tertentu, klik, atau mengambil informasi spesifik dari halaman yang sedang terbuka.
- Summary multi-tab Comet bisa membuat ringkasan dari beberapa tab sekaligus. Kamu cukup pilih tab mana saja yang mau di-include, lalu minta summary sesuai kebutuhan kamu (misalnya summary research, atau perbandingan kompetitor).
- Integrasi dengan Perplexity + voice mode Karena Comet dibuat oleh Perplexity, kamu dapat akses ke model AI Perplexity (seperti Sonar) langsung di browser, termasuk voice mode untuk kamu yang kadang males ngetik.
UX Research Tanpa Tab Overload
Biasanya UX research berarti: buka artikel, blog, forum, review produk, studi kasus — dan semua itu numpuk di tab. Dengan Comet Browser untuk desainer, kamu bisa ubah cara kerja: bukan “baca semua satu-satu”, tapi “kasih tugas ke AI untuk rangkum dan bandingin”.
Beberapa cara pakainya:
- Rangkum banyak sumber sekaligus Buka beberapa artikel UX, studi kasus, atau dokumentasi produk, lalu minta Comet:
- “Ringkas insight utama dari tab-tab yang saya pilih, fokus ke pain point user dan pattern UX yang sering muncul.”
- Competitor analysis cepat Buka 3–5 website kompetitor, lalu prompt:
- “Bandingkan value proposition, alur onboarding, dan elemen UI kunci dari semua tab produk yang terbuka.”
Hasilnya: kamu dapat gambaran besar lebih cepat, lalu tinggal deep dive ke bagian yang penting buat project kamu.
Analisa Project Brief Supaya Nggak Salah Arah
Brief client kadang panjang dan campur antara tujuan bisnis, fitur, dan ekspektasi yang nggak selalu jelas. Di sini Comet + Perplexity bisa bantu kamu mencerna brief jadi poin-poin yang lebih mudah dipakai.
Contoh workflow:
- Ringkas brief panjang Copy-paste isi brief dari email, Notion, atau dokumen ke Comet. Lalu minta:
- “Rangkum brief ini jadi 5 poin: tujuan bisnis, target user, masalah utama, scope desain, dan constraint.”
- Extract requirement UX dan pertanyaan klarifikasi Prompt lain yang kepake:
- “Dari brief ini, pisahkan: user needs, business objectives, dan deliverables.”
- “Tuliskan daftar pertanyaan yang perlu saya kirim ke client berdasarkan ketidakjelasan di brief ini.”
Dengan begitu, kamu datang ke client bukan cuma “ngerti” brief, tapi juga kelihatan lebih strategis karena tahu apa yang perlu diklarifikasi sejak awal.
Studi Kasus: Review Workflow di Miro dengan Comet

Contoh kasus yang saya lakukan adalah, meminta Comet Browser untuk menganalisis Miroboard. Kasus yang saya lakukan adalah untuk melakukan identifikasi workflow dari proyek tersebut. Saya meminta AI via Comet untuk mereview seluruh isi di dalam board.
Respon yang saya dapatkan dari AI, AI bisa memberikan gambaran overall layout, memberikan key section, dan visual elements fungsi besar dari board itu. Namun secara hasil yang diberikan terlalu luas. Dari sini, AI bisa mendeteksi topik apa yang berada di dalam board. Namun, AI agak sulit memberikan feedback secara spesifik.
Saya melakukan pendekatan dengan memberikan beberapa screenshot per artboard/per flow. Misalkan fungsi flow per masing-masing fitur. Lalu saya kirim ke Perplexity. Nah, dari sini AI baru bisa memberikan analisa yang jauh lebih dalam seperti:
- Menjelaskan isi flow,
- Menyebut strength,
- Menyebut issue,
- Dan memberikan rekomendasi improvement yang konkret.
Respon yang di hasilkan dari feedback yang diberikan oleh AI, di luar ekpektasi saya, cukup rinci, dan apa yang di tulisan cukup masuk akal, jadi dalam prosess membaca saya juga sambil mempelajari flownya seperti apa.
Comet Sebagai Partner Review Design Flow dan UX Copy
Selain Miro, kamu bisa pakai si Comet browser AI untuk designer, untuk review user journey dan UX copy secara umum. Beberapa pola yang bisa kamu bagikan:
Review user journey dari deskripsi ke Comet, lalu tanya:
“Identifikasi titik friksi, step yang terlalu panjang, dan potensi drop-off di flow ini.”
Perbaiki UX copy Copy text dari form, CTA, empty state, atau error message. Prompt:
“Bantu rewrite copy ini supaya lebih jelas, friendly, dan singkat, tanpa mengubah maknanya.”
Bandingkan dengan best practice
“Bandingkan flow ini dengan best practice onboarding / checkout, dan beri saran perbaikan yang berdampak tinggi.”
Bikin Timeline dan Rencana Pengerjaan dengan Perplexity
Kamu juga mention soal planning improvement dan pembuatan semacam PRD dan perencanaan detail dari input yang masih high level. Ini bisa kamu kaitkan ke use case draft timeline proyek. Misalkan projek yang di dapat dari freelance di upwork
Misalnya:
Kamu jelaskan masalah:
“Saya punya project redesign selama 2 minggu dan cuma kerja sendiri.”
Lalu minta Perplexity bikin rencana:
“Buatkan timeline 2 minggu untuk project redesign landing page dari research sampai handoff, tulis per fase dan estimasi waktunya.”
Perplexity akan menyusun:
- Struktur fase (research, ideation, wireframe, UI, prototype, handoff),
- Contoh task per fase,
- Kadang juga urutan prioritas yang masuk akal.
Kamu bisa gunakan output ini sebagai kerangka awal, lalu kamu adjust realistis sesuai jam kerja kamu dan cara kamu handle client.
Kelebihan Browser AI untuk Designer Dibanding Lain
Kelebihan perplexity di bandingkan dengan AI yang lain, menurut saya output Perplexity jauh lebih rinci dan deep terutama untuk:
- Analisa workflow,
- Pembuatan PRD,
- Perencanaan improvement.
- Menjelaskan suatu topik yang menurut kamu butuh pemahaman lebih dalam.
Juga Perplexity memiliki beragam AI model, Model yang di miliki oleh perplexity adalah AI model Sonar, namun selain itu ada lagi, dari Gemini, ChatGPT, Kimi, dan juga Claude. jadi pilihanya banyak.
Dan hal yang lain saya suka adalah saya bisa melakukan transcribe dan rekap hasil meeting dari Perplexiy, dan hasil rekap meeting yang berikan cukup rinci. dibandingkan AI model lainya. dengan catatan kamu harus melakukan upload audio file kedalam platform Perplexity-nya.
Contoh Prompt Siap Pakai yang di Browser AI untuk Designer
Kamu juga bisa menggunakan prompt di bawah ini sebagai yang bisa di lakukan oleh Perpelxity:
“Analisa brief berikut dan rangkum ke dalam: tujuan bisnis, target user, masalah utama, scope, dan constraint.”
“Dari tab yang saya pilih, buat ringkasan UX pattern yang sering dipakai untuk onboarding mobile app.”
“Ini screenshot flow dari Miro. Jelaskan apa yang kamu lihat, sebut strength, issue, dan berikan rekomendasi improvement.”
“Bantu saya bikin PRD singkat dari deskripsi masalah berikut, khusus untuk konteks product design.”
“Transcribe dan rangkum meeting berikut menjadi: ringkasan singkat, keputusan utama, dan action item untuk tim desain.”
Key Takeaway Dari Browser AI untuk Designer
Comet Browser + Perplexity: Workflow Desainer Lebih Efisien
- AI Agentic untuk Automasi Tugas
- Comet Browser bukan sekadar browser dengan plugin AI, melainkan AI-native browser yang memiliki AI Assistant terintegrasi untuk menjalankan task multi-step secara otomatis seperti download file, browsing dengan guideline tertentu, dan kontrol browser lewat prompt.
- UX Research Tanpa Tab Overload
- Desainer dapat merangkum insight dari banyak sumber sekaligus dan melakukan competitor analysis cepat dengan membandingkan value proposition, alur onboarding, dan UI dari beberapa tab produk secara bersamaan.
- Analisa Project Brief yang Lebih Strategis
- Perplexity membantu mencerna brief panjang menjadi poin-poin actionable, memisahkan user needs dari business objectives, dan menghasilkan daftar pertanyaan klarifikasi untuk client.
- Review Workflow & Design Flow yang Mendalam
- Meskipun AI kesulitan menganalisa Miro board secara keseluruhan, pendekatan dengan screenshot per artboard/flow menghasilkan analisa yang rinci mencakup penjelasan flow, strength, issue, dan rekomendasi improvement yang konkret.
- Planning & PRD yang Detail
- Perplexity unggul dalam membuat output rinci untuk analisa workflow, pembuatan PRD, perencanaan improvement, dan timeline proyek dengan struktur fase yang masuk akal.
- Transcribe Meeting yang Akurat
- Fitur transcribe audio Perplexity menghasilkan rekap meeting yang lebih rinci dibanding AI lain, mencakup ringkasan singkat, keputusan utama, dan action item untuk tim desain.
- Banyak Pilihan AI Model
- Perplexity menawarkan berbagai AI model (Sonar, Gemini, ChatGPT, Kimi, Claude) yang memberikan fleksibilitas sesuai kebutuhan task yang berbeda.